Pembunuh yang Dicintai Korbannya
Tuhan sembilan centi, begitulah Taufik Ismail menyebut benda yang
satu ini, untuk judul puisi panjangnya,
apalagi kalau bukan rokok. Jangan salah kawan, jika membahas rokok, kita
terbebas dari barang yang memiliki 4000 zat beracun ini. Membahasnya berarti
cita-cita, barangkali tidak terwujud
hari ini, namun suatu saat nanti, kelak
akan kita raih mimpi, menghirup udara segar dengan nyaman, yang menjadi hak
setiap insan di dunia.
Berbeda sedikit dengan Taufik Ismail, dimana beliau menyindir para
kiayi, yang menyatukan rokok dan tasbih dalam saku. Penuhanan itu benar-benar
tampak, saat penulis menyaksikan kecelakaan disebuah perusahaan industri,
seorang karyawan terkena patah tulang, dalam perjalanan ke rumah sakit, bukan
dia mengingat Allah swt, namun yang diinginkan sebatang rokok, agar hilang
nyeri dan perih, begitupun para pasien yang dirawat inap di rumah sakit, semua
ingin segera keluar dari sana, hanya karena menginginkan sebatang rokok.
Untuk lebih jelas membahas benda yang satu ini, mari di cobalah 400
batang rokok di pasang pada sebatang
pipa secara bergantian, pipa tersebut disambung kedalam botol yang diisi air
jernih, dan diantarnya ada alat penghisap, sehingga asap dari rokok, bisa
secara langsung masuk ke dalam botol, kemudian tancapkan rokok pada pipa satu
persatu. Awalnya memang warna air tampak biasa saja, namun setelah rokok ke 300
ditancapkan, warna air bukan jernih lagi, namun berwarna hitam pekat. Jangan
berhenti disitu, masukkan air hitam pekat, yang disebabkan 400 batang rokok
tadi kepanci dan masak, hingga kering. Hasilnya, akan ada lempengan hitam
lengket. Bayangankan, bila itu melekat pada paru-paru kita kawan, sangat sulit,
kepekatan yang menjijikkan.
Memang tak mudah memahamkan rokok pada masyarakat, apalagi petani
tembako, tempat bahan baku komuditi ini didapat, bagaimana nasib mereka jika
rokok dilarang di Indonesia. Sebenarnya, tidak ada yang bisa dilakukan seorang
muslim, selama dia masih meyakini Allah swt dan rasulNya, maka percayalah Allah
swt telah mengatur semua rezeki anak adam, tidak ada yang luput darinya, hingga
sepucuk daun yang gugur sekalipun.
Sebenarnya, bila para petani menginnginkan rezeki dari Allah swt
semata, sudah seharusnya meninggalan tembako. Banyak komuditi lain yang lebih
unggul dibanding tanaman yang satu ini, tanah memiliki sifat yang subur, bila
dirawat dengan baik tentunya, tanah tetaplah tanah, darinya tumbuh segala macam
pepohonan. Perluasan lahan tembako selama ini, sama sekali tidak meningkatkan
ekonomi petani tembako, apalagi pekerjaan ini, hanya sekedar warisan turun
temurun. Bahkan tidak ada petani tembako yang murni, selalu para petani
tersebut memiliki usaha lain, setidaknya menanam jenis tumbuhan lain diluar
musim tembako. Mereka tidak memiliki posisi tawar yang kuat, menyangkut harga
tembako, kenaikan harga tembako tidak berdampak positif bagi mereka, karena
harga produksipun juga sama-sama naik.
Yang paling beruntung dari industri ini, masih saja pihak asing.
Rakyat Indonesia hanya menikmati asap, yang menghitampkan paru-parunya saja.
Memang luar biasa kawan, rakyat indonesia yang ekonominya banyak
dibawah garis kemiskinan ini, ternyata sangat mengagumi rokok, biar tak makan
sekalipun, yang penting dapat merokok, iñalillah..sungguh musibah yang
besar. WHO mencatat setidaknya 4,5 juta orang setiap tahun meninggal karena
rokok, berarti juga kematian satu orang dalam setiap 5,8 detik, inilah
satu-satu pembunuh berdarah dingin, yang dicintai oleh para korbanya.
Lantas, bisakah hanya berdiam diri kawan, melihat pembunuhan dalam
setiap 5 detik. Mari kawan, teguhkan hati, galang kekuatan, lawan keganasan
ini, kesadisan terkadang tak tampak.

Komentar
Posting Komentar