Postingan

Cerita dari Dapur Enam (tentang perjalanan da'wah di sebuah kampung...)

Gambar
  Jembatan Barelang I menyambut kedatanga team kafilah Pemandangan pemukiman warga Dapur Enam dari belakang Pemandangan belakang pemukiman warga Dapur Enam  Memancing ikan bersama anak-anak  Memancing ikan bersama anak-anak   Mengajar mengaji anak-anak TPA Wajah-wajah generasi belia Dapur Enam Memasang bubu dengan Polo Memasang bubu dengan Polo  Peserta pelatihan mengajar Iqra' Dapur Enam bersama adik-adiknya  Melatih kader calon pengajar Iqra' TPQ Tanjung Banon Serius Bersama peserta pelatihan Peserta pelatihan, siap melanjutkan tugas Bersama anak-anak TPA Dapur Enam, bermain di area out bond milik DSNI Terpaksa telanjang dada, berenang Terpaksa juga, nyelam gonggong Terpaksa juga, nyelam gonggong Pulang dengan pilu diantar oleh Habil dan ayahnya Pak Musyada di Pelabuhan Sekupang Batam

"Kafilah Da'wah Mahasiswa STID M Natsir ke Batam 2011" (catatan perjalanan Zulfikar Sayf Maula...)

Jum'at, 8 July 2011 Pegal juga badan ini, perjalanan Tambun-Tanjung Priok dengan mobil TNI AL yang sempit, angkat-angkat barang, di tambah antrean panjang di pintu menuju kapal. Ku kira kesehatanku terancam, namun alhamdulillah team kafilah sudah membagikan 2 saset minuman herbal bubuk. Aku-pun langsung membuatnya, mengambil air panas dengan antrian yang panjang. Setelah meminumnya al hamdulillah, badan terasa lebih baik. Senin, 11 July 2011 Disuruh do'a setelah sholat, aku tolak, asli nggak bisa. Pak Imam bilang minta berkahnya, aku khawatir di kira anti do'a, di satu sisi, ngrasa bener juga, habis do'a yang di maksud nggak ada tuntunannya kok. Yang penting persiapan saja, kalau-kalau besok di minta lagi. Hari ini, aku dan Elip sampai di kampung tujuan, Dapur Enam, di antar langsung oleh Pak Yusuf, selaku lurah Sembulang. Dan Pak Atan, selaku ketua rt. 1. Selasa, 12 July 2011 Pak Atan tetap menginginkan kami tinggal di rumah, sementara Pak Itam, pengurus ma...

Gurindam Dua Belas

Gambar
Gurindam 12  merupakan puisi, hasil karya  Raja Ali Haji  seorang sastrawan dan  Pahlawan Nasional  dari  Pulau Penyengat , Provinsi  Kepulauan Riau . Gurindam I Ini gurindam pasal yang pertama Barang siapa tiada memegang agama, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama. Barang siapa mengenal yang empat, maka ia itulah orang ma'rifat Barang siapa mengenal Allah, suruh dan tegahnya tiada ia menyalah. Barang siapa mengenal diri, maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari. Barang siapa mengenal dunia, tahulah ia barang yang terpedaya. Barang siapa mengenal akhirat, tahulah ia dunia melarat. Gurindam II Ini gurindam pasal yang kedua Barang siapa mengenal yang tersebut, tahulah ia makna takut. Barang siapa meninggalkan sembahyang, seperti rumah tiada bertiang. Barang siapa meninggalkan puasa, tidaklah mendapat dua temasya. Barang siapa meninggalkan zakat, tiadalah hartanya beroleh berkat. Barang siapa meninggalkan haji, tiadalah ia meny...

Mitos Pulau Penyengat dan Spirit Islam

Gambar
LAIN lubuk lain ikannya, demikian pula dengan Pulau Penyengat yang terdapat di Kepulauan Riau. Pulau yang dapat ditempuh sekitar 15 menit dari Tanjungpura ini memiliki cerita unik. Dari kejauhan, Pulau Penyengat nampak indah dengan pemandangan khas etnis Melayu. Warna kuning nampak lebih dominan sebagaimana umumnya pada etnis Melayu. Keindahan semakin terasa ketika para penumpang pompong merapat ke dermaga yang berdekatan dengan Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat. Jangan datang ke Pulau Penyengat bersama pacar, demikian ungkapan yang beredar dan dipercaya di Pulau Penyengat. Karena usai menikmati keindahan panorama di pulau yang berpenghuni sekitar 2 ribu ini, bakalan bubar alias putus. Banyak warga di pulau tersebut membenarkan bahwa jika berkunjung menyertakan calon isteri, tak terlalu lama pasangan bersangkutan menuai perpisahan. Dengan sebutan salin, pasangan berpisah tanpa diakhiri dengan pernikahan. Karyawati Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Kepulauan Riau,...

MOTO PROVINSI KEPULAUAN RIAU ”BERPANCANG AMANAH, BERSAUH MARWAH”

B A B  V  "M OT T O"  (Makna Motto Pasal 9) Motto Daerah adalah BERPANCANG AMANAH BERSAUH MARWAH; I. BERPANCANG AMANAH bermakna menunjukkan sifat teguh untuk mempertahankan adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan kitabullah guna mencapai akhlak mulia; II. BERSAUH MARWAH bermakna menjaga adat dan budaya guna menata masa depan yang lebih baik menuju cita-cita luhur untuk mencerdaskan dan mensejahterakan masyarakat Kepulauan Riau;

Marwah Melayu, Korban Perjudian Bisnis Wisata

Oleh : Riki 16-Mei-2011, 10:29:19 WIB  - [ www.kabarindonesia.com ] KabarIndonesia -  Kepulauan Riau (Kepri) merupakan provinsi yang terhitung muda di Indonesia. Baru terbentuk ditahun 2002 hasil pemekaran provinsi kepri. Kepri sendiri terbentuk berdasarkan UU No. 25 Tahun 2002 sekaligus menjadi Provinsi ke-32 di Indonesia yang mencakup Kota Tanjung Pinang, Kota Batam, Kabupaten Bintan, Kabuten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kepulauan Anambas dan Kabupaten Lingga. Ibu Kota dari Kepri sendiri adalah Tanjung Pinang dimana mayoritas penduduknya adalah keturunan suku melayu. Hal ini bisa dilihat dari logat berbicara yang masih kental dengan bahasa melayu. Selain itu suku melayu dikenal kuat dalam menjaga marwah diri dan menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran. Selain karena faktor suku, hal ini juga diperkuat dengan agama. Mayoritas penduduk melayu adalah pemeluk agama Islam yang notabene selalu menjaga diri dari fitnah. Artinya adalah, Islam mewajibkan umatnya ...

“Ajari Aku Melayu”

Oleh: Naskar Wandi Lama juga aku mencari, di mana Melayu itu, tidak pernah ku jumpa, baik pada bahasanya, landasan kehidupannya, struktur bangunan yang dibina, satu pun tidak, lambang pada kemelayuan itu. Aku berbisik kepada anakku, “jika kau berkesempatan, dewasa nanti carilah dimana Melayu itu dan khabarkan kepada baba.” (2006, Koleksi Puisi Diraja) Kepulauan Riau (Kepri) adalah Melayu dengan semboyan Berpancang Amanah, Bersauh Marwah. Berpancang Amanah bermakna menunjukkan sikap teguh untuk mempertahankan adat bersendikan syara‘, syara‘ bersendikan kitabullah guna mencapai akhlak mulia. Bersauh Marwah bermakna menjaga adat dan budaya guna menata masa depan yang lebih baik menuju cita – cita luhur untuk mencerdaskan dan mensejahterakan masyarakat Kepulauan Riau Setahu penulis melayu telah banyak dibicarakan, melayu telah banyak diseminarkan, dilokakaryakan, difestivalkan, dan telah banyak juga berdiri organisasi melayu hingga sampai saat ini mungkin telah banyak konsep y...