"Kafilah Da'wah Mahasiswa STID M Natsir ke Batam 2011" (catatan perjalanan Zulfikar Sayf Maula...)

Jum'at, 8 July 2011
Pegal juga badan ini, perjalanan Tambun-Tanjung Priok dengan mobil TNI AL yang sempit, angkat-angkat barang, di tambah antrean panjang di pintu menuju kapal. Ku kira kesehatanku terancam, namun alhamdulillah team kafilah sudah membagikan 2 saset minuman herbal bubuk. Aku-pun langsung membuatnya, mengambil air panas dengan antrian yang panjang. Setelah meminumnya al hamdulillah, badan terasa lebih baik.

Senin, 11 July 2011

Disuruh do'a setelah sholat, aku tolak, asli nggak bisa. Pak Imam bilang minta berkahnya, aku khawatir di kira anti do'a, di satu sisi, ngrasa bener juga, habis do'a yang di maksud nggak ada tuntunannya kok. Yang penting persiapan saja, kalau-kalau besok di minta lagi. Hari ini, aku dan Elip sampai di kampung tujuan, Dapur Enam, di antar langsung oleh Pak Yusuf, selaku lurah Sembulang. Dan Pak Atan, selaku ketua rt. 1.

Selasa, 12 July 2011

Pak Atan tetap menginginkan kami tinggal di rumah, sementara Pak Itam, pengurus masjid membatalkan rencananya, yang akan meminta izin pada ketua rw lama Pak Karim, agar rumahnya dapat kami pakai. Aku sempat menyiapkan tempat di ruangan kosong ujung laut milik Pak Syafi'i, ketua rw baru. Gagal juga, Pak Atan dan istrinya langsung membersihkan, mengepel dan menggosok lantai papan, jadi nunggu kering. Ba'da maghrib tadi ke rumah Abdul, dimana anak-anak TPA belajar mengaji, bukan di masjid, ada Sara yang mengajar Iqra' dan Muqodam atau Baghdadiyah, muridnya lebih dari dua puluh anak, sementara yang fasih membaca Al qur'an ada lebih sepuluh anak, mereka sudah sering menggantikan Sara, bila berhalangan.

Rabu, 13 July 2011

Safriadi menelphon Elip, katanya tantangan di Dapur Enam tak ada, terlalu meremehkan. Proses tinggal baru tuntas, barang-barangku sudah ku pindah, tinggal buku-buku dan sepatu. Elip santai sekali, barang-barangnya masih di rumah Pak Atan, padahal ada rapat di sana. Alhamdulillah, akhirnya kami mendapatkan tempat tinggal yang terbaik, rumah kosong milik sd, dekat dengan sumur dan masjid, hanya saja toiletnya tidak ada. Semua setelah silaturahmi dengan pihak sekolah dan bertemu dengan kepala sekolah Ibu Dahliyar. Disisi lain, jama'ah tabligh itu cukup merepotkan proses pendekatan dengan masyarakat, sempat ku sampaikan uneg-unegku pada mereka, sampai ketuanya minta ma'af. Ada yang perlu kucatat, saat di rumah Pak Atan rapat, aku bertemu Pak Syafi'i sedang duduk santai di pelantarnya, aku ikut duduk dan mengobrol, kutanya, kenapa tidak mengikuti rapat?, jawabannya penuh sinis pada Pak Atan, maka aku sadar, sepenuhnya keberadaanku tidak boleh tampak memihak pada siapapun, apalagi jika mengarah pada etnis China dan Melayu, ngeri.

Jum'at, 15 July 2011

Pak Masri memintaku khutbah, kulimpahkan ke Elip, dia juga menolak, yang pasti jum'at depan jadwal kami, maka ku usulkan pada Elip agar dibuat kurikulum sekalian. Diminta menjadi imam, yang membuat degdegan dadaku do'anya, walhasil kubacakan saja do'a atau dzikir pagi-petang, sedikit tersendat-sendat, sebab lama tak ku amalkan. Sorenya, ikut bantuin Pak Rafik dan Pak Masri memasang kipas angin di masjid. Kemudian melobi Abdul, untuk turut serta mengajar Iqra'.

Sabtu, 16 July 2011

Diminta menjadi imam sholat, terus berusaha berdo'a yang baik. Pak Atan terus mengajak makan di rumahnya, aku kuwalahan menolak, padahal di rumah banyak lauk pemberian tetangga dekat.

Ahad, 17 July 2011

 Sholat shubuh masih menjadi persoalan, keadaan benar-benar gelap, beberapakali kesiangan, sudah bicara dengan Elip, dia akan membelikan lampu cas, dananya dari uang kafilah, tapi aku pesimis. Kegiatan saat ini, mulai aktif mengajar Iqra' anak-anak. Besok insyaallah menemani Elip, mengisi training demi masa.

Senin, 18 July 2011

Menemani Elip, mengisi training demi masa. Bertemu Agus, rupanya sudah beberapa kali berpindah-pindah, berpisah dengan Adi Kusuma, aneh. Dahulu tampaknya mereka yang meminta perubahan pasangan kafilah. Bertemu Rusli, katanya pelatihan Iqra' tidak ada harapan, hanya ada di tangan masing-masing anggota team. Ba'da maghrib, aktif mengajar Iqra, berkenalan dan bersama anak-anak.

Selasa, 19 July 2011

Sedih, ghirohku terlalu tipis, agenda hanya mengajar Iqra' anak-anak, semoga bermanfaat.

Rabu, 20 July 2011

Aneh memang masyarakat ini, ada yang di kehendki dan yang tak dikehendaki. Tadi pagi sempat mencari cacing, rencana mau mancing, tapi keburu dzuhur, nggak jadi. Ngantuk sekali, mau tidur selepas dzuhur, tapi Pak Atan manggil-manggil, nggak jadi istirahat. Ngobrollah, sekalian buat bahan sosial maping, sampai kami di bawa dan dikenalkan pada ketua rt. 1 yang beragama konghucu, minta informasi tentang warganya. Kemudian mampir ke rumah Pak Aspur, mengutarakan program, memperbaharui papan nama masjid, pembacaan ayat suci Al qur'an setiap ba'da maghrib dan pembentukan remaja masjid. Yang terakhir itu pernah terbentuk, tapi tidak berjalan. Selepas sholat maghrib, kubacakan langsung 10 ayat surat An nabaa' beserta terjemahan, pesertanya Pak Aspur, Pak Masri, Pak Mus dan dua orang tua lagi, mereka tampak menyambut baik.

Kamis, 21 July 2011

Hatiku sedih, sholat shubuh di rumah, padahal masjid dekat. Setelah maghrib, kembali membacakan ayat, kali ini beberapa ayat surat Al mulk. Setelah itu, langsung menuju rumah Pak Itam, Abdul dengan anak-anak yang telah lancar membaca Al qur'an, yasinan sejak lepas sholat maghrib tadi, aku-pun hanya berniat sedikit menjelaskan ma'na kandungan surat Al 'alaq.

Jum'at, 22 July 2011

Khutbah dengan tema sabar.

Sabtu, 23 July 2011

Berusaha terus meyakinkan Elip, agar bekerjasama, minimal saling mendukung, membuat program buat bapak-bapak, ibu-ibu dan pemuda, tapi sulit. Jadi, kegiatan hanya mengajar Iqra' anak-anak.

Ahad, 24 July 2011

Gotong royong bersama warga, aku mulai dari halaman rumah sendiri, masjid, kemudian menguras sumur. Ba'da maghrib ngobrol dengan Pak Aspur, Pak Masri dan Pak Mus, tentang aqidah, tapi akhirnya nyinggung da'i di Cate yang menolak keberadaan anak kkn dan jama'ah tabligh yang cenderung memaksa-maksa.

Senin, 25 July 2011

Mengajar Iqra' anak-anak saja, menjadikan keinginan untuk membuat kegiatan yang lebih baik, tapi tangan tak sampai, apa daya. Berusaha maksimal saja, mengajar Iqra'.

Selasa, 26 July 2011

Ceramah memperingati isra' mi'raj, dan menyambut Ramadhan 1432 H di hadapan murid-murid sd, sesuai undangan Pak Rafik, kujelaskan saja, apa yang pernah kupelajari dalam materi sirah nabi lid da'wah, kebetulan tema yang kupilih sama. Selebihnya kegiatanku bertambah, memukul beduk setengah hati, tapi lebih bagus pukulanku dari mereka, dulu sempat di ajari tetangga waktu sd. Makan malam barusan, tempat Pak Atan lagi, lauk pemberian BuTin terancam basi, mudah-mudahan dapat bertahan hingga esok.

Rabu, 27 July 2011

Aku merasa ini hari yang indah dan penuh barokah, pilihanku tepat untuk tidak ikut Elip ke Batam, walaupun ada rasa bersalah sedikit, tanpaku, Elip malah pergi sama Sara, padahal ini yang ku khawatirkan semalam, saat Elip mengutarakan niatnya pergi sama Sara dan aku nggak setuju, tapi malah di ketawa-in. Jam delapan Pak Rafik datang, mengajakku ke rumah Bu Mitha, guru baru pindahan dari Pulau Abang, ada acara syukuran pindah rumah. Aku diminta mimpin baca do'a, tak bawa saja Hisnul Muslim, glagapan juga cari do'a yang sesuai, nggak ada, jadinya kembali ke do'a dzikir pagi dan petang. Setelah itu, anak-anak datang, mengajakku mancing, Candra membawa durian dan rambutan untuk bekal mancing di keramba, ngeri juga mengendarai polo, perahu dayung kecil yang goyang-goyang. Agendaku bertambah, selain mengajar Iqra' dan memukul bedug, aku juga adzan dengan suara yang pas-pasan, shubuh, dzuhur dan 'asyr. Semoga mendapat pahala.

Kamis, 28 July 2011

 Astaghfirullah, aku ikut tahlilan, ini yang pertama dalam sejarah hidupku, ada catatan hikmah yang ingin ku utarakan, tapi tak ada kesempatan, asli acara penuh makan dan mengobrol. Hari ini, sholat dzuhur dan 'asyr bersama anak-anak, kemudian memancing. Mengajar Iqra' pasti, yang aneh cara belajarnya, membaca satu dua baris, lancar tidak lancar, kemudian mdnuliskan apa yang di baca. Maka caraku beda, sebab kasihan juga sama yang lancar, lambat selesai. Ku beri yang lancar banyak membaca, terus nulis akhir yang dibaca.

Jum'at, 29 July 2011

Khutbah lagi, tema aqidah, kata Pak Atan kepanjangan, kutanya Pak Aspur, khutbah kedua sebabnya, nggak perlu di isi, langsung do'a dan terpenting do'a mohon ampunan. Tambahnya. Ke kecamatan, ngambil sembako, ketemu Yusmahega, ngobrol banyak.

Sabtu, 30 July 2011

Masalah, Elip seperti tak mau tahu, Ramli marah-marah di rumah Pak Atan. Acara tambahan hari ini, makan-makan kue di masjid, menyambut Ramadhan. 

Senin, 1 Agustus 2011

Mengunjungi pesantre Raudhatul Qur'an Bida Ayu Batam, mengantar beberapa santrinya yang mendapat keringanan dari DSNI belajar di sana. Ada empat gereja berjajar di samping pesantren.

Selasa, 2 Agustus 2011

Malu juga, BuTin menanyakan perihal putusnya hubungan Sara dan Ramli, calon suaminya. Disebabkan ulah Elip, aku sendiri malas konfirmasi ke Elip, seharusnya dia sadar dan membenarkan nasehatku sebelum pergi sama Sara ke Batam, tapi ini beda, dia diam saja.

Rabu, 3 Agustus 2011

Ceramah sebelum sholat terawih, temnya hikmah puasa.

Jum'at, 5 Agustus 2011

Diminta mengisi pesantren kilat anak-anak sd, sepakat aku menjelaskan sholat, tapi ternyata, menjelaskan adzan dan iqomah sekaligus. Syukurnya pernah dapat materi itu, dalam mata kuliah menejemen masjid dengan Pak Aswan.

Sabtu, 6 Agustus 2011

Mengisi ceramah sebelum sholat tarawih, temanya tentang hikmah sholat. Masih degdegkan, Robbishrohli sodri wa yassirli amri wahlul 'uqdata millisaani yafqohu qouli...

Rabu, 10 Agustus 2011

Ceramah sebelum sholat terawih, temanya istiqomah. Sayang, pembahasanku ngalor ngidul, intinya hanya sedikit yang sampai, semoga bermanfaat.

Sabtu, 13 Agustus 2011

Ceramah sebelum sholat terawih, temanya cinta pada Allah, semoga menambah kecintaakku pribadi padaNya juga jama'ah.

Rabu, 17 Agustus 2011

Ingin rasanya menyampaikan tema kemerdekaan, tapi kesempatan tak datang-datang, sudahlah nggak perlu menggebu-gebu. Alhamdulillah, progam acara pelatihan Mengajar Iqra' mulai pagi tadi, kuberi tema "Mengajar Iqra', Melahirkan Generasi Qur'ani", sekaligus memperingati malam nuzulul qur'an. Pesertanya, anak-anak TPA yang ku undang, mereka sudah dapat membaca Al qur'an, serta membimbing adik-adik yang masih Iqra, rata-rata duduk di akhir sekolah dasar hingga menengah pestama. Sebenarnya, ku undang juga mereka yang seusia menenga atas, tapi tak ada satu pun yang datang, lagian targetku sudah sampai. Khusnuzon saja sama Allah, Dia yang menentukan...

Jum'at, 19 Agustus 2011

Khutbah jum'at lagi, ku pilih tema Islam dan Pekerjaan, sangat singkat uraiannya, sejauh mata memandang, jama'ah melek, sesekali ada yang merem melek, belum merem lagi, aku dah sampai khutbah ke dua. Mbuh, karena temanya atau karena singkatnya.

Senin, 22 Agustus 2011

Bertemu Pak Dodi, da'i tempatan DSNI asal Cianjur, tugasnya di kampung sebelah, Tanjung Banon. Ku utarakan maksud dan tujuanku akan mengadakan pelatihan mengajar Iqra'. Ia menyambut baik, kemudian mengenalkanku pada Awang, Jamal, Lilis dan Dewi, anak-anak yang dia pilih, untuk pengkaderan. Setelah berbicara dengan mereka, kami menyepakakati hari Rabu dan Kamis, untuk mengadakan pelatihan. Semoga sukses...

Rabu, 23 Agustus 2011

Pelatihan mengajar Iqra' di Tanjung Banon, berangkat jalan kaki, awalnya sendiri wae, ketemu Ilham di jalan, tapi anak kelas satu sd itu balik lagi, malu katanya. Pelatihan lancar, bertempat di kediaman Awang, turut hadir Pak Dodi, kakek Awang, istri Pak Dodi, mamak Jimi. Ba'da 'asyr di antar Ibrahim, mahasiswa salah satu sekolah tinggi juga di Batam. Darinya aku semakin tahu, pendidikan warga Tanjung Banon lebih tinggi dari pada Dapur Enam. Maka aku mulai sadar, alasan kenapa kami ditempatkan di Dapur Enam, dan bukan di Tanjung Banon 

Kamis, 24 Agustus 2011

Masih pelatihan di Tanjung Banon, pulangnya siap jalan, tapi Pak Naharuddin memperhatikan juga, saat asyik ngobrol dengan anaknya, Bang Zulkarnaen, dalam masjid Al Ihsan, istri Pak Nahar memintaku agar pulang bersama menantunya Bang Shobirin, dia sekalian beli es di Dapur Enam. Mendekati akhir di bulan ke dua ini, aku berfikir juga, untuk mengadakan pelatihn di masjid Al Ikhlas Bangsal, ini sesuai dengan kata Pak Yusuf, saat mengantar kami , pertamakali melewati daerah itu.

Jum'at, 26 Agustus 2011

Nggak sampai hati juga, melihat Elip gagal kafilah, mau apa?, harusnya dia menyadari apa kataku sebelum berangkat ke Batam sama Sara. Tapi, malah ngancam nggak mau ngelanjutin kuliah. Allahu Akbar...

Senin, 29 Agustus 2011

Masyarakat benar-benar dibuat ragu oleh pemerintah, masalah 1 Syawal. Seorang ibu menanyakan itu padaku, ku jawab tidak boleh ragu, harus yakin. Tapi tetap saja, masyarakat awam, yang jadi masalah, masak-masaknya itu.

Selasa, 30 Agustus 2011

Keputusan pemerintah mendapat umpatan masyarakat, tapi tetap saja, mereka ngikut imamnya. Waktuku habis untuk persiapan khutbah idul fitri, jadi juga, temanya Tafakur dan Tasyakur. Safriadi datang, mau ketemu Elip, Elip mancing di tengah laut, jemput saja, eh Elip nolak, sudah capek-capek Candra mendayung, tak telphoninlah dari tengah laut, masih saja dia malas. Sementara awan mendung, kehujanan di tengah laut, terombang-ambing, kedinginan, hanyut ikut arus, pasrah, Candra kehabisan akal, tenaganya juga sia-sia, hujan terlalu deras. Waktu hujan mulai reda, lewat pompong, kami pun di tarik dengan mesinnya, sampai pelantar Alai Pak Atan sudah menunggu. Seru juga, cuma karena Elip, sampai basah kuyup. Tapi, sedih juga, Safriadi cuma mengabarkan keputusan kegagalan kafilah Elip.

Rabu, 31 Agustus 2011

Khutbah idul fitri di masjid Al Jihad Sungai Raya, antusias pendengar tinggi, Pak Nazar suami Bu Yar yang sholat kemaren ngomong, kalau ngerti khatibnya semangat begini, sholat sekarang aku. Nggak gr, itu -kan kata-katanya Yunan Nasution dengan sedikit penyesuaian dariku. Lepas sholat segera ke Dapur Enam, ada janji bersama anak-anak ke kandang kambing, tapi mereka nggak ada, nggak masalah, aku juga perlu istirhat. Sebelum minta ma'af ke rumah Pak Atan, Pak Aspur, Pak Burhan dan jajaran rumah sekitar ujung kanan.

Kamis, 1 September 2011

Melanjutkan silaturahmi, sampai ke Tanjung Banon. Barusan, bisa ke rumah Pak Safar, Pak Mukhtar, Pak Itam, Bang Abdul dan Bang Iwan. Kemudian terakhir Pak Slamet, ujungnya perumahan di Dapur Enam. Tinggal rumah-rumah yang tak kenal dekat, semoga esok ada waktu...

Jum'at, 2 September 2011

Khutbah terakhir, kupilih tema Mendidik Anak-Anak Menurut Islam, sebagai pesan terakhir, sekaligus laporan evaluasi keberadaanku selama dua bulan di Dapur Enam. Cukup menjadi jawaban, akhir-akhir ini banyak yang bertanya, kesimpulan KKN, sempat membingungkan juga, apalagi progam kami sangat minim, sudahlah kusampaikan tentang anak-anak, apalagi selama di sini aku lebih banyak sama anak-anak. Sehingga kebersamaan selama, tidak terkesan main-main saja.

Sabtu, 3 September 2011

Bukan aku tak cinta Dapur Enam, tapi masih banyak kerja yang harus ku selesaikan, utang menumpuk yang harus di bayar, istri sholihah yang harus kunikahi dan masih banyak lagi. Selamat jalan Dapur Enam, dengan pilu ku tinggalkanmu, sampai jumpa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ringankan Beban Kuatkan Impian: Dampak Bantuan Seragam bagi Suci Aulia Dhina

Mitos Pulau Penyengat dan Spirit Islam

Pembunuh yang Dicintai Korbannya