“Ini Bapakmu..! Ini Matanya..! Ku ludahi..! Ku injak-injak..!!”
“Ini Bapakmu..! Ini Matanya..! Ku ludahi..! Ku injak-injak..!!”
By : Made Teddy Artiana
Penulis, fotografer, Event organizer
Siapapun akan bergidik membaca kalimat diatas. Demikian sarkastis.
Mengerikan. Tetapi bagi mereka yang mengetahuinya, kalimat itu adalah
tukilan dialog dari sebuah adegan film komedi yang telah melegenda di
negeri ini. Nagabonar.
Kata-kata itu diucapkan oleh Jendral Nagabonar, dialamatkan kepada
Jendral Mariam, sepupunya sendiri. Sebuah provokasi.
“Sengaja dia ku buat marah. Waktu dia marah, kucopet buah caturnya!!”.
Dan Mariampun kalah bermain catur. Hanya karena terprovokasi lalu
menjadi marah.
Yang ‘satu itu’ memang punya keunikan tersendiri. Provokasi. Sebuah
instrumen yang jika digunakan dengan benar akan sangat hebat
dampaknya, namun jika salah, akan sangat merugikan. Sebuah buku kuno
tentang strategi perang, yang sekarang banyak diaplikasikan di dunia
bisnis pun merasa perlu mencantumkannya. Sun Tzu’s The Art of War.
“Jendral Perang.”, Demikian menurut Sun Tzu, ”Jika ia pengecut, ia
akan tertangkap. Jika ia ceroboh, ia akan terbunuh. Jika ia sensitif
terhadap kehormatan, ia akan mudah dipermalukan. Jika ia pemarah, ia
akan mudah terprovokasi”
Menarik untuk dipahami, sebuah provokasi tidak hanya dapat lahir dari
seseorang, namun juga keadaan. Keadaan bisa jadi turut menjadi
provokator.
Apakah kemudian provokasi sepenuhnya bermakna negatif? Tentu saja tidak.
Seorang CEO sekaligus owner sebuah perusahaan minyak yang adalah
merupakan salah satu client kami, setelah menjadi mentor sekian tahun,
memprovokasi sang pengganti dihadapan segenap karyawan mereka.
“Harusnya dia (sambil menyentuh pundak CEO muda penggantinya) bisa
lebih dari saya. Saya saja yang bukan Sarjana Perminyakan bisa, masa
dia yang adalah Sarjana dari sebuah Universitas terkemuka, kalah sama
saya. Memalukan jika itu sampai terjadi”
Agak berbeda dengan pengalaman diatas. Seorang sahabat, yang adalah
konsultan bisnis, sebaliknya : mengeluhkan ketidakpiawaian banyak
atasan dalam menggunakan instrumen ini.
“Mereka hanya sekedar memprovokasi (memanas-manasi) bawahan mereka.
Hanya itu. Lalu berharap bawahannya akan melakukan yang terbaik.
Bahkan dibanyak kasus”, masih menurut sahabat terakhir, “para pimpinan
itu tidak bisa membedakan provokasi dan adu domba! Manajemen konflik
yang keliru!!”
Jika diamati lebih jauh, ternyata bukan hanya pimpinan perusahaan yang
sering tidak mengerti cara menggunakan provokasi dengan baik, orang
tua, guru pun bahkan kita semua sering melakukan ‘dosa’ yang serupa.
“Masa gitu aja gak bisa..! Malu-maluin keluarga aja!”
“Liat tuh Dewi, rajin..gak kaya kamu!!”
“Dasar pengecut!! Kaya gitu aja gak berani!! Kamu bukan anak saya!!!”
“Emang kamu tahu apa..!? Bisa apa?!! Dari dulu emang gak bisa apa-apa”
“Kalo kamu bisa berubah..udah kiamat kali dunia!!”
Untuk sebuah tujuan yang bapositif, provokasi sebaiknya didahului
dengan pengenalan diri. Lalu dilanjutkan dengan motivasi. Kemudian
persiapan atau perbaikan diri.
Tanpa terlebih dulu membantu seseorang menemukan ‘kekuatan’ dan
‘kebaikan’ dalam dirinya, provokasi hampir bisa dipastikan hanya
tinggal provokasi.
Karena mereka yang terprovokasi, akan terpancing untuk maju, keluar,
menyerang. Persis prajurit yang maju berperang tanpa keahlian dan
persenjataan yang cukup. Dan ini bunuh diri.
Sebuah cerita Yunani kuno, mungkin dapat mewakili keadaan diatas :
provokasi kosong.
Achielles seorang prajurit perkasa dan kebal senjata, bersahabat karib
dgn Patroclus. Suatu hari, karena terprovokasi situasi perang dan
ingin menjadi seperti sahabatnya, Patroclus menyamar menjadi Achieles.
Ia mengenakan pakaian perang Achielles, bahkan seluruh senjata perang
Achielles. Tapi apa lacur, Patroclus bukanlah Achielles. ia akhirnya
terbunuh, karena memang tidak sama sekali bukanlah prajurit yang
memiliki kesaktian seperti Achielles.
Nah cerita diatas, agaknya diadopsi (jangan dibaca : ditiru) oleh film
Nagabonar.
Si Bujang, sahabat karib Nagabonar, melakukan hal yang sama dengan
yang dilakukan. Hasilnya ? Meminjam pakaian dan senjata sahabatnya,
kemudian maju ke medan perang. Akhirnya ? senasib dengan Patroclus!
“Bujaaanggg..Bujaaanggg..zudah ku bilang zangan bertempurr.. zangan
bertempurrr...kau bertempur zuga..matilah kau dimakan caciiing !!!!”
(*)
--
*What a wonderfull world ! What an exciting journey !!
*
*
Made Teddy Artiana, S. Kom
*
fotografer, penulis & event organizer
http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com
*Galery & Stock Photo
*http://theBeautyofBelitung.multiply.com
http://fromBaliWithLove.multiply.com
http://LawangSewuKotaTua.multiply.com
http://TriptoPulauPramuka.multiply.com
http://HongkongMacauShenzen.multiply.com
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sekolah-kehidupan/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/sekolah-kehidupan/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
sekolah-kehidupan-digest@yahoogroups.com
sekolah-kehidupan-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
sekolah-kehidupan-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
By : Made Teddy Artiana
Penulis, fotografer, Event organizer
Siapapun akan bergidik membaca kalimat diatas. Demikian sarkastis.
Mengerikan. Tetapi bagi mereka yang mengetahuinya, kalimat itu adalah
tukilan dialog dari sebuah adegan film komedi yang telah melegenda di
negeri ini. Nagabonar.
Kata-kata itu diucapkan oleh Jendral Nagabonar, dialamatkan kepada
Jendral Mariam, sepupunya sendiri. Sebuah provokasi.
“Sengaja dia ku buat marah. Waktu dia marah, kucopet buah caturnya!!”.
Dan Mariampun kalah bermain catur. Hanya karena terprovokasi lalu
menjadi marah.
Yang ‘satu itu’ memang punya keunikan tersendiri. Provokasi. Sebuah
instrumen yang jika digunakan dengan benar akan sangat hebat
dampaknya, namun jika salah, akan sangat merugikan. Sebuah buku kuno
tentang strategi perang, yang sekarang banyak diaplikasikan di dunia
bisnis pun merasa perlu mencantumkannya. Sun Tzu’s The Art of War.
“Jendral Perang.”, Demikian menurut Sun Tzu, ”Jika ia pengecut, ia
akan tertangkap. Jika ia ceroboh, ia akan terbunuh. Jika ia sensitif
terhadap kehormatan, ia akan mudah dipermalukan. Jika ia pemarah, ia
akan mudah terprovokasi”
Menarik untuk dipahami, sebuah provokasi tidak hanya dapat lahir dari
seseorang, namun juga keadaan. Keadaan bisa jadi turut menjadi
provokator.
Apakah kemudian provokasi sepenuhnya bermakna negatif? Tentu saja tidak.
Seorang CEO sekaligus owner sebuah perusahaan minyak yang adalah
merupakan salah satu client kami, setelah menjadi mentor sekian tahun,
memprovokasi sang pengganti dihadapan segenap karyawan mereka.
“Harusnya dia (sambil menyentuh pundak CEO muda penggantinya) bisa
lebih dari saya. Saya saja yang bukan Sarjana Perminyakan bisa, masa
dia yang adalah Sarjana dari sebuah Universitas terkemuka, kalah sama
saya. Memalukan jika itu sampai terjadi”
Agak berbeda dengan pengalaman diatas. Seorang sahabat, yang adalah
konsultan bisnis, sebaliknya : mengeluhkan ketidakpiawaian banyak
atasan dalam menggunakan instrumen ini.
“Mereka hanya sekedar memprovokasi (memanas-manasi) bawahan mereka.
Hanya itu. Lalu berharap bawahannya akan melakukan yang terbaik.
Bahkan dibanyak kasus”, masih menurut sahabat terakhir, “para pimpinan
itu tidak bisa membedakan provokasi dan adu domba! Manajemen konflik
yang keliru!!”
Jika diamati lebih jauh, ternyata bukan hanya pimpinan perusahaan yang
sering tidak mengerti cara menggunakan provokasi dengan baik, orang
tua, guru pun bahkan kita semua sering melakukan ‘dosa’ yang serupa.
“Masa gitu aja gak bisa..! Malu-maluin keluarga aja!”
“Liat tuh Dewi, rajin..gak kaya kamu!!”
“Dasar pengecut!! Kaya gitu aja gak berani!! Kamu bukan anak saya!!!”
“Emang kamu tahu apa..!? Bisa apa?!! Dari dulu emang gak bisa apa-apa”
“Kalo kamu bisa berubah..udah kiamat kali dunia!!”
Untuk sebuah tujuan yang bapositif, provokasi sebaiknya didahului
dengan pengenalan diri. Lalu dilanjutkan dengan motivasi. Kemudian
persiapan atau perbaikan diri.
Tanpa terlebih dulu membantu seseorang menemukan ‘kekuatan’ dan
‘kebaikan’ dalam dirinya, provokasi hampir bisa dipastikan hanya
tinggal provokasi.
Karena mereka yang terprovokasi, akan terpancing untuk maju, keluar,
menyerang. Persis prajurit yang maju berperang tanpa keahlian dan
persenjataan yang cukup. Dan ini bunuh diri.
Sebuah cerita Yunani kuno, mungkin dapat mewakili keadaan diatas :
provokasi kosong.
Achielles seorang prajurit perkasa dan kebal senjata, bersahabat karib
dgn Patroclus. Suatu hari, karena terprovokasi situasi perang dan
ingin menjadi seperti sahabatnya, Patroclus menyamar menjadi Achieles.
Ia mengenakan pakaian perang Achielles, bahkan seluruh senjata perang
Achielles. Tapi apa lacur, Patroclus bukanlah Achielles. ia akhirnya
terbunuh, karena memang tidak sama sekali bukanlah prajurit yang
memiliki kesaktian seperti Achielles.
Nah cerita diatas, agaknya diadopsi (jangan dibaca : ditiru) oleh film
Nagabonar.
Si Bujang, sahabat karib Nagabonar, melakukan hal yang sama dengan
yang dilakukan. Hasilnya ? Meminjam pakaian dan senjata sahabatnya,
kemudian maju ke medan perang. Akhirnya ? senasib dengan Patroclus!
“Bujaaanggg..Bujaaanggg..zudah ku bilang zangan bertempurr.. zangan
bertempurrr...kau bertempur zuga..matilah kau dimakan caciiing !!!!”
(*)
--
*What a wonderfull world ! What an exciting journey !!
*
*
Made Teddy Artiana, S. Kom
*
fotografer, penulis & event organizer
http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com
*Galery & Stock Photo
*http://theBeautyofBelitung.multiply.com
http://fromBaliWithLove.multiply.com
http://LawangSewuKotaTua.multiply.com
http://TriptoPulauPramuka.multiply.com
http://HongkongMacauShenzen.multiply.com
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sekolah-kehidupan/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/sekolah-kehidupan/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
sekolah-kehidupan-digest@yahoogroups.com
sekolah-kehidupan-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
sekolah-kehidupan-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Komentar
Posting Komentar