Menilai Buruk Orang Lain
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Catatan Kepala: ”Jika Anda
menemukan orang-orang yang kurang menyukai Anda. Atau
memperlakukan Anda dengan cara yang kurang pantas. Mungkin mereka bukan
membenci Anda. Mereka hanya belum mengenal siapa Anda.”
Ada
ungkapan tak kenal maka tak sayang. Ada benarnya juga sih, meskipun
kadang kita suka merasa ‘sayang’ kepada orang yang tidak kita kenal, ya
kan? Perkenalan kita dengan orang lain, bisa berdampak baik. Bisa juga
berdampak buruk. Bergantung dengan siapa kita berkenalan. Sampai batas
mana tingkat perkenalan kita. Dan, bagaimana kita bersikap terhadap
perkenalan yang sudah kita bangun. Dalam interaksi kita dengan orang
lain, kita sering mengalami pasang surut. Kadang senang, kadang sedih.
Bisa benci, cinta, sayang, sebal. Apapun. Namun, dari sekian banyak
dinamika itu; kita sering terjebak untuk memberikan penilaian buruk
kepada orang lain. Atau sebaliknya, orang lain yang menilai kita buruk.
Padahal, belum tentu penilaian itu benar.
Ketika
membawakan sesi training in-house di perusahaan yang meng-hire saya,
saya sering mengalami peristiwa seru juga. Kadang ada saja orang yang
‘menilai’ bahwa keberadaan dirinya di ruangan itu sama sekali tidak ada
gunanya. Atau, mungkin juga sebenarnya beliau menilai keberadaan saya di
ruangan itu yang justru tidak ada gunanya. Hal itu terpancar dari
sikapnya. Cara berbicaranya. Bahkan dari caranya memandang kearah saya.
Seakan hendak mengatakan; “who do yo think a hell you are!” Diakhir
training biasanya orang-orang seperti itu datang menyalami bahkan ada
yang memeluk; “Maafkan saya Pak….” Bisiknya. Saya sendiri percaya bahwa
tidak ada yang harus dimaafkan. Tidak ada yang salah kok. Tetapi, kadang
saya mendengar ucapan tulus yang mengakui jika sebelumnya beliau salah
sangka atau under-estimate pada saya. Soal ini,
mungkin kita semua pernah melakukannya. Saya dan Anda pun bisa jadi
pernah demikian. Namun, kesadaran seperti inilah yang justru bisa
menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Bagi Anda yang
tertarik menemani saya belajar menjadi pribadi yang lebih baik melalui
interaksi dengan orang lain, saya ajak memulainya dengan memahami 5
sudut pandang Natural Intelligence berikut
ini:
1. Setiap
orang memiliki sisi baik. Sesebel-sebelnya kita kepada
seseorang, hal itu tidak menjamin jika diri kita lebih baik dari orang
itu. Jika tidak keberatan, silakan ingat-ingat; siapa orang yang paling
tidak Anda sukai? Anda tentu mempunyai alasan untuk membencinya. Tetapi,
sebaiknya sesekali Anda berkaca kembali kedalam diri; apakah diri kita
tidak memiliki sesuatu yang bisa menjadi alasan bagi orang lain membenci
kita juga? Jika sampai sekarang semua orang masih menyukai Anda, bukan
berarti Anda sempurna.
Mungkin karena mereka belum pernah Anda kecewakan. Mungkin diantara
Anda ada orang yang pernah saya kecewakan. Saya yakin orang itu tidak
menyukai saya. Tetapi, saya yakin benar jika sebagian besar orang yang
membaca tulisan ini tidak membenci saya. Mengapa? Karena saya baik?
Bukan. Itu karena mereka belum ‘merasakan’ efek dari keburukan saya.
Kepada saya, mungkin ada yang benci. Tapi, ada juga yang sayang. Yang
sekarang sayang pun, besok bisa ikut membenci; jika dia tahu ‘belangnya’
saya. Selain menunjukkan bahwa kita ini sama tidak sempurnanya dengan
mereka yang kita benci, juga menujukkan bahwa diantara keburukan setiap
orang; selalu terselip kebaikan mereka. Maka tantangannya adalah;
bagaimana kita bisa semakin mengasah dan mengkilapkan sisi baik itu,
sehingga sisi buruk kita semakin meredup. Kabar baiknya, itu adalah
proses. Jadi kita bisa melakukannya terus menerus.
2. Memahami sebelum memvonis.
Apa yang Anda lakukan jika ada orang lain yang salah sangka kepada
Anda? Orang itu keliru menilai Anda. Tentu Anda akan berusaha untuk
memberikan penjelasan atau mengklarifikasinya, bukan? Kita semua akan
berusaha meluruskan penilaian orang lain yang keliru tentang diri kita.
Begitu pula halnya dengan orang lain yang kita nilai buruk, akan
berusaha untuk membuat penilaian kita berubah menjadi baik. Mengapa?
Karena tidak seorang pun dimuka bumi ini yang rela dinilai buruk. Kita
memiliki kebutuhan intrinsic untuk dinilai baik, dan diterima oleh
lingkungan secara baik-baik. Apa
yang terjadi ketika Anda menjelaskan ‘yang sebenarnya’? Orang lain akan
memahami Anda. Apa yang terjadi ketika orang lain menjelaskan ‘duduk
perkaranya’? Anda akan memahami mereka. Lalu, jika sudah ada pemahaman
yang tepat itu apakah Anda masih akan menvonis orang lain sebagai orang
yang buruk? Ah, tentu tidak. Karena sekarang Anda sudah memahami ‘apa
yang sebenarnya’. Bahkan kepada seseorang yang nyata-nyata berbuat
kesalahan pun kita bisa memakluminya jika kita memahami ‘mengapa’ mereka
sampai melakukannya kan? Kita memaafkannya, meski dengan catatan;
‘jangan mengulanginya lagi’. Atau ‘lain kali kamu minta izin dulu
dong…’. Atau, ‘kenapa kamu tidak terus terang sih sama saya?’ Maka mulai
sekarang, kita perlu mendahulukan proses ‘memahami’, supaya tidak
sembarangan ‘memvonis’ orang lain.
3. Waspada
terhadap perilaku yang membahayakan. Meski
kita percaya bahwa setiap orang memiliki sisi baik, namun kadang-kadang
orang bertemu dengan kita dalam keadaan ‘buruk mode on’. Kalau sekedar
buruk perilaku, mungkin kita bisa memakluminya. Tetapi, kalau buruknya
bisa membahayakan, ya tentu kita harus bisa melindungi diri. Maka
kewaspadaan tetap menjadi piranti yang sangat penting. Justru berbahaya
sekali jika kita tidak waspada. Bukan curiga loh, tapi waspada.
Bahkan terhadap teman sekalipun. Bukankah banyak kejadian yang
membahayakan justru datang dari orang-orang terdekat kita? Istri waspada
pada suami yang ringan tangan juga bagus. Atau, suami yang waspada pada
istri yang tingkahnya aneh. Kepada teman yang terlalu royal, Anda juga
perlu waspada. Karena kewaspadaan bisa mencegah terjadinya
sesuatu yang tidak baik. Konon katanya, para pencopet pun tidak berani
mengusik orang yang waspada. Ya, kira-kira begitu jugalah untuk
keburukan-keburukan lain yang bisa saja dilakukan oleh orang lain kepada
kita. Dengan kewaspadaan itu, kita tidak memandang buruk orang lain.
Tetapi juga tidak lengah terhadap kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
4. Keburukan bisa menjadi guru
kebaikan. Jika seseorang melalukan perbuatan buruk, bukan
kepada Anda; apa yang Anda lakukan? Teman saya misalnya, sangat benci
sekali kepada seseorang. ‘Emangnya apa yang sudah dia lakukan sama elu?’
begitu saya bertanya. “Enggak ada.” Katanya. Lho? Aneh ya? Kita
membenci orang lain yang tidak melakukan apapun pada kita. “Gue semek
aja sama kelakuannya,” katanya lagi. Kita sering membenci pribadi
seseorang bukan karena mereka mengusik diri kita. Apa urusan kita, kan?
Anda boleh memberi perlawaan kepada orang-orang yang memperlakukan Anda
buruk. Tetapi pada
orang yang tidak mengusik Anda? Jikapun orang itu perilakunya buruk
kepada orang lain, maka cukuplah kita jadikan hal itu sebagai guru untuk
meningkatkan nilai kebaikan kita. Misalnya, jika Anda tidak suka
perilaku buruk tertentu teman Anda, maka Anda punya cermin agar jangan
sampai melakukan keburukan yang sama. Coba perhatikan orang-orang
disekitar Anda. Banyak yang perilakunya kurang baik. Menggunakan BB
untuk merayu istri orang. Meminjam uang tapi ogah bayar. Mencedrai
kepercayaan pasangannya. Mengambil yang bukan haknya. Kita tidak perlu
ikut membenci pribadi mereka. Tetapi, kita bisa jadikan
keburukan-keburukan yang mereka lakukan sebagai pelajaran dan energy
yang menguatkan kita untuk istikomah atau teguh dalam nilai-nilai
kebaikan.
5. Bukan
kita yang berhak menilai. Bahkan para penyidik dan jaksa pun
bisa salah dalam menilai orang lain. Apalagi yang memang sengaja dibuat
salah atau diputarbalikkan faktanya. Kita? Lebih bisa salah lagi dalam
menilai. Faktanya kita tidak memiliki kemampuan untuk menilai secara
obyektif dan akurat, kok. Makanya, kita tidak diberi hak untuk menilai
orang lain. Jika bukan kita yang menilai lantas siapa yang mengontrol
perilaku orang? Kenapa pusing. Sudah ada staff khusus yang ditugaskan
Tuhan untuk melakukan
pengawasan melekat atas perilaku, tindak tanduk, dan tingkah polah
setiap pribadi. Tuh, disebelah kanan Anda; Ada petugas pencatat amal
baik. Dan disebelah kiri Anda? Ada petugas yang tanpa kompromi menulis
keburukan apapun yang Anda lakukan. Mereka tidak pernah lengah. Bahkan
disaat semua orang sedang pada tidur. Jadi, jika kita merasa bisa
menunggu orang lain lengah baru melakukan tindakan buruk, kita salah
besar. Jika kita merasa bisa menyembunyikan barang bukti, kita keliru.
Oh, betapa petugas yang Tuhan pilih itu tidak pernah henti mengawasi
gerak-gerik kita. Hal ini memberi kita 2 kesadaran. Pertama, betapa kita
tidak memiliki ruang untuk berbuat buruk tanpa ketahuan. Kedua, betapa
kita tidak memiliki hak untuk menilai baik buruknya orang lain. Maka,
jika orang lain buruk, tak perlu pusing; dia akan mempertanggungjawabkan
keburukannya. Dan jika kita yang buruk? Ehm, orang lain mungkin tidak
tahu. Tapi petugas jaga Tuhan? Menyaksikan hingga setiap
detailnya.
Bagaimanapun juga, interaksi kita dengan orang lain merupakan
sebuah proses yang berjalan dua arah. Karenanya, sebuah hubungan yang
baik tidak bisa dibangun hanya oleh salah satu pihak. Jika Anda
menemukan orang-orang yang kurang menyukai Anda. Atau
memperlakukan Anda dengan cara yang kurang pantas. Mungkin mereka bukan
membenci Anda. Mereka hanya belum mengenal siapa Anda. Maka, menunjukkan
nilai-nilai positif didalam diri Anda merupakan sebuah kebutuhan. Oleh
karenanya, kita perlu belajar mendorong diri kita sendiri untuk terus
memperlihatkan sisi baik yang kita miliki. Bukan untuk menyembunyikan
sisi buruk, melainkan untuk selalu berusaha mengambil pilihan-pilihan
yang baik, meski sesungguhnya kita berkesempatan untuk melakukan hal
buruk. Semoga, dengan begitu kita bisa menjadi
pribadi yang tetap baik. Sekalipun kita semua memiliki sisi buruk.
Dengan demikian, kita memiliki kesempatan untuk mendapati buku catatan
amal kita lebih banyak berisi kebaikan daripada keburukan.
Mari Berbagi Semangat!
Trainer of Natural Intelligence Leadership Training
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (Tahap dummy di penerbit)
Catatan Kaki:
Apakah seseorang itu baik, atau terlihat baik? Bukan kita yang
tahu. Melainkan yang Maha Tahu.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi
yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong,
jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak
berkurang karenanya.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
Komentar
Posting Komentar