Norman Kamaru, Kisah Klasik Para Pencari Lentera Jiwa Oleh Nursalam AR
Nasib
(eks) Briptu Norman Kamaru kini persis seperti kata pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga“.
Sudah dipecat dengan tidak hormat oleh instansi tempatnya bertugas
(Polda
Gorontalo), dihujat pula oleh banyak orang, terutama di berbagai forum
di dunia
maya. Kasihan oh kasihan.
--
www.nursalam.wordpress.com
Alasan
para penghujat, antara lain, adalah karena Norman
melakukan tindak indispliner dengan mangkir bertugas selama 2 bulan
berturut-turut. Dan itu menurut mereka bukan cerminan citra polisi yang
baik.
Apalagi buat polisi selebritas sekaliber Norman Kamaru yang terlanjur
jadi
idola. Barangkali awalnya para penghujat ini adalah pemuja Norman Kamaru
yang
terlalu menaruh ekspektasi berlebihan di pundak s i belia Norman.
Dengan
munculnya video Youtube Norman dengan goyangan Chaiya-Chaiya
yang asyik, seakan mereka menemukan
katarsis atau oase di tengah timbunan kekecewaan mereka terhadap citra
dan
kinerja kepolisian negeri ini yang memprihatinkan. Mereka berilusi
dengan
munculnya Norman sebagai ikon polisi yang
humanis (berjoget ceria) maka kepolisian akan terdorong untuk lebih
baik. Di
beberapa kesempatan, pihak kepolisian juga tampak aktif memanipulasinya
dengan
sederet move kehumasan,
seperti mengundang Norman ke mabes Polri dan
memberikan penghargaan dll.
Namun,
apakah lantas kisahnya menjadi happy
ending?
Tidak,
bagaimanapun Norman Kamaru adalah manusia biasa. Ia
punya jiwa, ia punya kebebasan. Sebagai manusia, ia punya passion. Dalam istilah Andi F.
Noya, pembawa acara talkshow
Kick Andy di Metro TV, ada lentera
jiwa dalam diri
setiap orang yang butuh dipuaskan. Dan Norman Kamaru juga punya itu,
saya
meyakininya demikian. Dan ia pun berhak mengukir kisah hidupnya sendiri,
sebagaimana yang mulai diukirnya dan akan terus bergulir. Sesederhana
itu saja
saya memandangnya.
Bagi saya,
kisah Norman Kamaru bukan kisah pembangkangan
seorang polisi terhadap komandannya. Bukan juga kisah orang kampung yang
mabuk
kepayang dengan ketenaran, sebagaimana banyak dituduhkan orang. Kisah
Norman
Kamaru adalah kisah klasik para pencari lentera jiwa atau passion, yang menggelegak dalam
diri mereka.
Passion itulah yang mengundang sederet drama dalam karier
Norman
Kamaru: pelarangan manggung hingga “pengamanan” dari pihak kepolisian -
sebagai
atasan Norman — saat ia menjalani syuting acara musik di sebuah TV
swasta di
Jakarta. Alhasil, bisa kita tebak alur kemudian adalah, pembangkangan
Norman
yang berujung pada pemecatan tidak hormat atas dirinya dari korps
kepolisian.
Di sini, sikap
kepolisian bagai sikap sebagian orang tua
kita yang paradoks: membangga-banggakan anaknya yang balita yang
berbakat
melukis namun menjewer telinganya tiap kali ia mencoret-coret dinding,
dan
bukan menyodorkan alternatif media gambar yang lebih memenuhi harapan
semua
pihak.
Boleh jadi
polisi memang sebuah profesi turunan di
keluarga Norman, seperti yang diakuinya di banyak berita di media massa.
Mulai
dari ayahnya, Idrus Kamaru,hingga saudara-saudaranya semuanya polisi.
Tapi,
salahkah jika Norman punya pilihan sendiri sesuai suara hati atau
bisikan
nuraninya yang berbeda dari harapan orang tuanya? Terlebih jika ada
tawaran
menarik secara material dalam profesi barunya itu.
Adalah hak
asasi seseorang untuk mencari penghidupan yang
lebih layak, lebih baik. Jelas, itu pilihan yang lebih baik, jika memang
sesuai
dengan suara nuraninya. Bisa jadi pula, sekadar dugaan, Norman yang
berjiwa
seni tertekan dengan atmosfer kemiliteran di kepolisian yang menekan
jiwanya,
atau, maaf, budaya sogok atau korupsi yang konon membudaya di dalam
tubuh
kepolisian. Salahkah jika Norman memilih hijrah dari itu semua?
Sebagian dari
kita mungkin pernah mengalami di suatu
titik kehidupan kita saat harus membungkam passion
atau keinginan nurani kita semata-mata karena menuruti
egoisme
orang tua atau keluarga. Kita yang bercita-cita menjadi arsitek namun
harus
memilih kuliah di fakultas hukum hanya karena orang tua kita menganggap
profesi
arsitek tidak mendatangkan uang lebih banyak daripada profesi pengacara.
Jika
pun kita mampu, kita tak menemukan kesenangan atau kegembiraan bekerja
dalam
profesi tersebut. Jika demikian, apakah kita bisa disebut manusia yang
merdeka
jiwanya?
Norman Kamaru,
dengan segala kekurangan dan
keterbatasannya, harus jujur kita akui, adalah manusia yang merdeka. Ia
memilih
mengikuti passion atau
lentera jiwanya, melakukan apa yang disukainya. Kita patut iri
kepadanya. Sama
seperti irinya kita kepada Thomas Alva Edison, sang penemu jenius, yang
dalam
salah satu kutipan legendarisnya, mengatakan bahwa ia tak pernah merasa
bekerja, ia hanya bermain-main.
Ya,
bermain-main, karena Edison melakukan segenap upaya
penemuan bola lampu dan ratusan hak paten lainnya dengan sukacita,
sesukacita
balita yang bermain-bermain dengan apa yang disukainya. Pada dasarnya,
manusia
adalah animale luden,
hewan yang bermain-main. Sisi inilah yang kerap hilang dari kita, yang
membuat
kita iri (dan patut iri) pada seorang Norman Kamaru.
Saat
kita iri, jeleknya, kerap kali kita berlaku seperti rubah licik dalam
legenda The Sour Grape (anggur asam)
yang terkenal itu. Karena sang rubah tak mampu menjangkau anggur yang
ranum, ia
pun mempropagandakan ke seluruh isi hutan bahwa anggur itu asam. Dalam
bahasa
lain, Aa Gym, jauh sebelum beliau berpoligami, sering mengatakan bahwa
bangsa
kita seperti kepiting. Jika sekelompok kepiting ditaruh dalam baskom,
dan salah
satu berusaha keluar dari baskom atau wadah itu, yang lain justru akan
berusaha
menariknya kembali. Ya, dalam bahasa sebuah tagline
iklan, susah lihat
orang senang, senang lihat orang susah.
Kawan,
marilah ambil cermin untuk berkaca, karena bukan mustahil kisah Norman
Kamaru
diam-diam adalah keinginan terpendam kita bertahun-tahun lalu yang
terpaksa
luluh dibakar waktu karena kita tak berani keluar dari comfort zone atau kungkungan
kebiasaan dan tradisi. Kisah Norman Kamaru adalah kisah klasik para
pencari
lentera jiwa. Kisah orang-orang yang ingin bebas merdeka
mengejawantahkan passion-nya, mewujudkan
mimpi-mimpinya, merengkuh masa depannya dengan caranya sendiri.
Sesederhana itu
saja.
“Bermimpilah,
maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.” (Andrea Hirata dalam tetralogi Laskar
Pelangi)
Sekadar
renungan, berikut lirik lagu Lentera Jiwa
yang dinyanyikan
Nugie:
reff:
kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
yang slalu membunyikan cinta
kupercaya dan kuyakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku
lentera jiwaku
kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
yang slalu membunyikan cinta
kupercaya dan kuyakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku
lentera jiwaku
Lirik
lengkapnya lihat di http://liriklaguindonesiapopuler.blogspot.com/2008/04/lirik-lagu-lentera-jiwa-nugie.html
Lenteng
Agung, 8 Desember 2011
Follow
me @salamrahman
--
www.nursalam.wordpress.com
Komentar
Posting Komentar