Jin
Membahas
hal yang satu ini, mengingatkan saya pada sebuah penjelasan, yang menerangkan
bahwa, jin (جن) berasal dari huruf jim (ج) dan nun (ن). Ini mengindikasikan bahwa, semua kata
yang berasal dari dua huruf tersebut, adalah hal-hal gha'ib. Katakan, misalnya
seperti jannah (جنة) yang bermakna syurga, junun ( جنون) yang bermakna gila dan contoh laiinnya.
Semuanya tak dapat dilihat oleh kasat mata, dalam artian mereka semua gha'ib.
Allah swt berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 1-3 “Alif Laam
Miim.Kitab (Al Qur'an) initidak ada keraguan padanya; petunjuk bagimereka yang bertakwa,(yaitu) mereka yang beriman
kepada yanggaib, yang mendirikanshalat dan menafkahkansebahagian rezki yangKami anugerahkankepada
mereka,”.
Orang-orang yang
bertaqwa, yang dimaksud oleh Allah swt, adalah orang yang beriman akan adanya
hal yang gha'ib, dalam kitab-kitab tafsir disebutkan, bahwa yang dimaksud hal
gha'ib disini yaitu: Allah swt sendiri, para malaikat, para rasul, hari kiamat,
akhirat, siksa kubur, syurga, neraka. Kita perlu mengimani kegha'iban dari
semua hal tadi, juga kepada jin, sebagai umat Islam kita meyakini
keberadaannya, karena begitu juga dengan para salaf, dimana mereka juga
meyakini keberadaan jin ini. yang mana telah jelas disebutkan dala Al-Qur'an
dan Al-Hadits. Allah swt berfirman: (وما خلقت
الجن والإنس إلا ليعبدون ), Maknanya: “Dan tiadalah aku ciptakan jin dan manusia
kecuali (Aku perintahkan
mereka) untuk beribadah kepada-Ku” (Q.S. adz-Dzariyat: 56). Sedangkan Rasulullah
saw bersabda: ( فَلاَ تَسْتَنْجُوْا بِهِمَا،
فَاِنَّهُمَ طَعَامُ اِخْوَانِكُمْ ),
“Maka, janganlah kamu sekalian beristinja’ dengan tulang dan tahi binatang,
karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kamu.” (HR. Tirmizi).
Karena nabi
Muhammad saw adalah nabi terakhir, yang menyangkup risalah bagi jin dan manusia,
maka jin pun harus menerima meyakini akan adanya nabi terakhir tersebut, yaitu
nabi Muhammad saw. Ini juga berarti tidak berbeda antara manusia dan jin,
semuanya harus mengamalkan risalah yang dibawa oleh nabi terakhir. Tidak hanya kepada
manusia saja, risalah seperti amar ma’ruf juga harus kepada jin ditegakkan,
apalagi diketahui, bahwa permusuhan antara jin dan manusia, sudah ada sejak
diciptakannya nabi Adam dan pasangannya Hawa. Maka disinilah tampak pentingnya nahi
mungkar.
Menurut Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah, bahwa seringkali didapati fenomena penampakan jin, yang
menjadikan masalah semakin parah, para jin ini muncul menyerupai seseorang yang
sudah meninggal dunia, dan tepat pada saat orang-orang mengkultuskan kuburan
orang yang meninggal tersebut, sehingga dipercaya sebagai karomah atau lain
sebaginya. Padahal pengkultusan dan penyembahan terhadap kuburan ini, dilarang
keras dalam Islam.
Dari uraian
singkat ini, dapatlah disimpulkan, bahwa jin dan manusia sama-sama makhluk
Allah swt, diantara keduanya telah bermusuhan sejak lama. Tidak boleh bagi
manusia tunduk pada jin, apalagi mengikuti kata-kata atau bisikannya. Sebesar apapun
ancaman jin, tidak boleh bagi manusia pasrah, apalagi meminta-minta izin pada
jin, ini adalah termasuk perbuatan syirik, hanya kepada Allah swt kita takut,
dan hanya kepadaNya kita pasrah. Wallahu a’lam bishawwab.

Komentar
Posting Komentar