Kenapa Harus Kartini?
Oleh Zulfikar Sayf Maula[1]
Semacam doktrin, bertahun-tahun masyarakat Indonesia menelan
mentah-mentah sejarah sosok Kartini, tanpa mengetahui siapa sebenarnya sosok
pahlawan nasional yang satu ini. Masyarakat Indonesia dicekoki dengan
kepahlawanan yang hampa, tanpa perjuangan besar, menjadikan Kartini sebagai
seorang super hero, ikon perjuangan bangsa. Sementara pahlawan-pahlawan wanita,
pejuang-pejuang perempuan yang jelas-jelas turun tangan, dalam
pertempuran-pertempuran di zaman penjajahan, sama sekali tak di anggap, seolah
hilang, tenggelam oleh kebesaran Kartini.
Hingga saat ini, penulis juga baru menyadarinya, kenapa tidaka
dijadikan Cut Nyak Din sebagai ikon perjuangan wanita Indonesia dan diperingati
dengan hari Cut Nyak Din?, kenapa bukan Dewi Sartika atau perempuan lain yang
banyak berjuang demi agama dan bangsa?, sangat rancu memang, maka pertanyaan
‘kenapa harus Kartini?’ bukanlah pertanyaan yang tidak berdasar, bukan
mengada-ngada, pertanyaan yang perlu diajukan kepada setiap guru-guru dan semua
pihak, yang mana mengajarkan sejarah nasonal kita, dan menganggap sejarah
adalah kunci masa depan bangsa.
Tidak seharusnya, mengajarkan sejarah dengan kebohongan kepada
generasi baru, sejarah harus diajarkan dengan benar, dan bila ada yang salah
maka harus dikatakn salah, biarlah kebenaran terus diwariskan kepada generasi
baru, sehingga mereka dapat belajar dengan sungguh-sungguh. Apa yang dilakukan
Kartini buat bangsa ini, kita sebutkan walau sedikit. Namun, bila ada
keganjilan, sehingga tampak dilebih-lebihkan, itu juga harus kita sebutkan.
Adapun kesahalannya, dia adalah manusia, maka tidak ada yang perlu diteladani,
hanya pembelajaran saja, sehingga generasi baru tidak jatuh di lubang yang
sama, pada kesalahan yang sama.
Mempertanyakan peran Kartini, satu-satunya hal yang saya ingat
dibenak saya, adalah surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya, kumpulan
surat-surat tersebut kemudian diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1911 di
Belanda, dan baru diberi judul “Habis Gelap, Terbitlah Terang” setelah
diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Selain dari itu, maka tidak ada yang
saya ingat, saya terus berusaha mengingat penjelasa guru-guru sekolah dasar dahulu, namun nihil,
mereka tak mengajarkan banyak mengenai Kartini, yang ada hanya kebesaran
Kartini yang selalu disanjung-sanjung
Ini bukan karena saya seorang lelaki, sehingga terlihat merendahkan
seorang wanita, namun murni mengungkap fakta saja, agar pelajaran sejarah dapat
dipelajari dengan benar, bukan dengan dusta. Sehingga generasi yang mengetahui
sejarah ini, dapat bangkit memimpin bangsa dengan benar pula. Jika membahas
jasa-jasa seorang wanita, maka terpujilah para pejuang wanita yang langsung
turun tangan membantu atau langsung melawan penjajah, terpujilah guru, nenek, ibu
dan bibi saya, mereka adalah perempuan-perempuan tangguh disekeliling saya.
Tidak sedikitpun, saya ragukan perjuangan mereka, dalam mendidik dan
membesarkan seorang anak manusia.
Sedangkan Kartini, ia terlahir dalam sebuah keluarga priyayi kaya,
dia dipingit dan sekolah bersama warga Belanda pada masa penjajahan. Pada saat
inilah, ia banyak menulis surat buat taman-temannya, terutama pada kenalannya
yang berada di Belanda. Ketika dewasa dan cukup umur buat menikah, ia pun
menikah sebagai istri ke-empat dari seorang lelaki. Entah dengan alasan apa,
sehingga dia mau dijadikan madu saat itu, yang jelas Kartini bukanlah sosok
feminis yang anti poligami, sebagaimana banyak feminis yang fobia terhadap
poligami.
Kartini meninggal pada tahun 1904, sebelum wafatnya ia sempat
belajar Al-Qur’an pada Kyai Sholeh Darat namun hanya pembahasan surat Al-Fatihah,
kita berharap Kartini meninggal dalam keadaan Islam. Walaupun, tidak ada
pernyataan apapun dari Kartini sebelum wafatnya, tidak juga ralat ataupun
penjelasan mengenai keyakinannya selama ini, berarti juga ia tetap dalam pendiriannya
yang lama. Pendirian yang dapat ditelusuri dari surat-suratnya kepada para
sahabatnya, menunjukkan betapa Kartini seorang yang cerdas, namun sayang kecerdasan
tersebut tidak digunakan untuk mengkaji Islam, dan pada suratnya bertanggal 15
Agustus 1902, ia mengakui betapa bebal dan bodoh, sebab tidak melihat kekayaan
Islam.
Ini bukan berarti Kartini anti Islam, ia mempelajari Islam,
mengkaji Al-Qur’an dari Kyai Sholeh Darat, namun surat-suratnya kepada para
sahabatnya, tidak mencerminkan ia seorang muslimah yang taat, alih-alih
memiliki aqidah yang kuat, ia hanya seorang wanita muslimah dengan pemahaman
agama yang sedikit. Ia belajar Al-Qur’an dari Kyai Sholeh Darat pada tahun
1903, dan pada tahun yang sama Kyai tersebut meninggal. Semenatara pada tahun
setelahnya, Kartini fawat. Hanya sekitar kurang lebih setahun, Kartini mengkaji
Islam dari Kyai Sholeh Darat.
Tidaklah benar, jika judul buku kupulan surat-suratnya “Habis
Gelap, Terbitlah Terang” adalah inspirasi Kartini dari surat Al-Baqarah
ayat 257, yaitu “minazhulumâti ilan-nûr”. Kemampuan Kartini untuk
mempelajari Al-Qur’an, dari surat Al-Fatihah hingga Al-Baqarah ayat 257 dalam
tempo singkat sangat diragukan. Yang benar adalah, judul tersebut diberikan
oleh Arminj Pane, seorang sastrawan anggota Theosofi yang menerbitkan versi
terjemahan dari surat-surat Kartini.
Ya tejemahannya, sebab yang pertama kali menerbitkan buku kumpulan
surat Kartini adalah Abendanon, Abendanonlah yang memberi judul dalam bahasa
Belanda, yaitu “Door Duisternis tot Licht”, judul tersebut yang kemudian
di terjemahkan oleh Arminj Pane, Abendanon sendiri mengaku mengambil judul
tersebut dari syair yang dikutip oleh Kartini dalam suratnya;
“Habis malam terbitlah terang
Habis badat datanglah damai
Habis juang sampailah menang
Habis duka tibalah suka”
Itulah kutipan syair yang dijadikan judul oleh Abendanon buat buku
kumpulan surat dari Kartini, sejak awal kemunculan sosok Kartini, pihak
Belandalah yang mengusungnya sebagai sosok super hero, ini jelas berbeda dengan
sosok-sosok pahlawan wanita lainnya, yang sangat dibenci dan diburu oleh pihak
Belanda. Ini berarti ada campur tangan kolonial Belanda, pada tahun yang sama
1911, tujuh tahun setelah wafatnya Kartini, saat itu berdiri Kartini Fond yang
menerbitkan buku kumpulan surat-surat Kartini, di Belanda dan bukan di
Indonesia. Sejak itulah, gagasan dan pemikiran Kartini dipasarkan, sehingga
tampak oleh dunia akan keberhasilan pendidikan melalui penjajahan Belanda di Indonesia.
Bukan tidak ada yang mempermasalahkan hal ini, sebagian orang
Belanda saat itu, merasa keberatan dengan pihak elit Belanda yang
menggadang-gadang sosok Kartini, ini juga berarti memang ada campur tangan
pihak kolonial Belanda. Surat kabar Nieuw van den Bag, pada tahun 1914
memuat komentar pembaca, yang mempertanyakan sikap elit-elit Belanda, yang
sangat getol memperkenalkan sosok Kartini, surat tersebut mengatakan, jika
Kartini berjuang buat bangsanya, mengapa Belanda yang musti ribut-ribut memperkenalkannya
kepada masyarakat, mengapa Belanda juga yang mengeluarkan dana untuk biaya
sekolah-sekolah Kartini, biarlah masyarakat usahakan dan kerjakan sendiri.
Dengan begitu, sekolah-sekolah Kartini pun diketahui dibiayai oleh
pihak kolonial Belanda, tentu ini bukanlah cuma-cuma diberikan oleh kolonial
Belanda, jelas ada hubungan yang menjadi tolak ukur kolonial Belanda bekerja
keras memperkenalkan sosok Kartini. Dari surat-surat-surat Kartini juga dapat
diketahui, sejauh mana pemahaman dan pemikirannya, bagaimana bisa seorang
pahlawan, namun tidak pernah ikut mengangkat senjata, melawan penjajahan.
Ada yang mengatakan, bahwa pandangan keagamaan Kartini telah
berubah, dari awalnya menganut Kebatinan-Sinkretis ala Theosofi kepada faham
Islam yang sesungguhnya. Namun, tak ada data menunjukkan keseriusan hubungan
antar guru dan muridnya tersebut. Dan hingga akhir hayatnya, tak ada ralat atau
koreksi mengenai faham-faham Kartini, ini berarti tak ada perubahan signifikan
dalam pandangan keagamaan Kartini, dengan kata lain, pandangan keagamaannya
masih sama seperti tercantum dalam surat-suratnya kepada sahabat-sahabatnya di
Belanda.
Ada pula yang mengatakan, Kartini sangat menolak kegiatan
Kristenisasi di tanah air. Ini bukanlah semata-mata berdasarkan keyakinan mendalam
Kartini akan Islam, yang jelas berdasarkan pemahaman bahwa semua agama sama, tidak ada yang boleh
mendominasi, dan tidak boleh ada yang memaksakan kehendak keyakinannya pada
seseorang.
Ini sesuai dengan surat Kartini kepada E.C Abendanon, bertanggal 31
Januari 1903, “kalau orang mau juga mengajarkan agama kepada orang Jawa,
ajarkanlah kepada mereka Tuhan yang satu-satunya, yaitu Bapak Maha Pengasih,
Bapak semua umat, baik Kristen maupun Islam, Budha Yahudi, dan lain-lain.”
Dan juga pada suratnya kepada misionaris Dr. N Andriani, bertanggal 5 Juli
1903, “tidak peduli agama apa yang dipeluk orang dan bangsa apa mereka itu.
Jiwa mulia akan tetap mulia juga dan orang budiman akan budiman juga. Hamba
Allah tetap dalam tiap-tiap agama, dalam tengah-tengah segala bangsa”.
Pramoedya Anata Toer dalam bukunya “Panggil Aku Kartini Saja”,
menyatakan bahwa, Kartini penganut faham humanisme, seperti juga tercantum
dalam suratnya kepada Abendanon, bertanggal 15 Agustus 1902, “Tuhan kami
adalah nurani, neraka dan surga bagi kami adalah nurani. Dengan melakukan
kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami. Dengan melakukan kebajikan,
nurani kamilah yang memberi kurnia”. Ini menunjukkan keyakinan pada hukum
alam, dan bukan hukum Tuhan. Pemahaman yang tidak berbeda dengan yang di anut
oleh organisasi-organisasi bercorak Jawanisme-Kebatinan, layaknya Taman Siswa,
Tri Koro Dharmo dan Budi Utomo pada waktu itu.
Sebab lingkungan dan sekelilingnya, terutama sahabat-sahabatnya
yang banyak berasal dari Belanda, bahkan sebagian besar adalah penganut faham
Theosofi. Maka tidak aneh, jika pemahaman Kartini pun tidak jauh berbeda dengan
Theosofi, sebagaimana Karitni juga menulis mengenai kebatinan dalam surat
bertanggal 31 Januari 1903, “agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan
agama itu bisa dipeluk sebagai Nasrani, maupun Islam, dan lain-lain...”
Dan yang perlu dicatat, bahwa faham kebatinan Jawa, memilik Tuhan
yang menyatu dengan hamba, sehingga inti dari hidupnya adalah berbuat kebaikan,
ini sebagai implementasi sifat Ketuhanan yang menyatu tadi. Ini juga disebut
dengan pancaran ilahi, pletik Tuhan, atau dalam bahasa Ingris disebut “God
in Being”. Sama halnya dengan keyakinan Theosofi, agama apapun selama
menebar kebajikan, maka pada hakekatnya sama.
Dengan begitu pula, dapat disimpulkan bahwa keyakinan Kartini
terhadap Islam, bahwa Islam belumlah sempurna dan masih memiliki kekurangan
atau kelemahan. Ini seperti juga disimpulkan oleh Mr. Conrad Theodore van
Daventer, yang menulis mengenai Tuhannya Kartini dalam majalah De Gids, pada
bulan September 1911, “sebagai seorang yang terdiri secara Islam, ia
(Kartini, red) ingin tetap menjadi Islam, sekalipun Ia tidak buta terhadap
kelemahan ajaran itu, karena bentuk kepercayaan itu akhir-akhirnya soal kedua,
dan setiap bentuk itupun punya kelemahan sendiri..”
Dengan keyakinan tersebut, Kartinipun terpengaruh maju sebagai
feminis pertama di negeri ini, bentuk perjuangannya tidak diketahui, hanya ia
sosok pintar didikan kolonial Belanda. Maka dia berbeda 350 derajat dengan
tokoh-tokoh pahlawan, yang dengan gigih berjuang mempertahankan kemerdekaan negeri
ini, dengan keyakinan dan agama yang jelas. Maka pertanyaan kenapa harus
Kartini?, jawabannya masih menganmbang, karena ketokohannya dipanggung sejarah
sangatlah minim. Dan peringatan hari Kartini yang jatuh pada 21 April kemarin,
sudah saatnya digantikan oleh nama lain, peringatan hari Cut Nyak Din ataupun
pejuang perempuan lainnya.
Wallahu a’lam bishawab..
Biodata Penulis:
Zulfikar Sayf Maula, mahsiswa STID Moh. Natsir, berminat pada dunia
literasi, blogs: anajawy.blogspot.com, email: zs.maula @gmail.com.
[1] Zulfikar Sayf Maula, mahsiswa STID Moh. Natsir, berminat pada dunia
literasi, blogs: anajawy.blogspot.com, email: zs.maula @gmail.com.
Komentar
Posting Komentar