“Manhaj Al-‘Ashr”



            Manhaj yang dibaca oleh setiap sahabat Nabi saw bila berjumpa; berjanji di atas keimanan dan amal shalih; berjanji di atas kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran; berjanji di atas keduanya sebagai kunci manhaj; berjanji di atas keduanya sebagai ummat yang selalu tegak di atas manhaj ini. Selain Al-‘Ashr bermakna masa atau waktu secara bahasa, maka “Manhaj Al-‘Ashr”, dapat juga diartikan ‘konsep kekinian’, dan memang itulah dia yang dimaksud, yaitu konsep hidup masa kini, zaman yang modern.
Al-‘Ashr, juga lebih akrab terdengar ditelinga masyarakat, sebagai nama sebuah surat pendek, para imam masjid-pun sering melantunkannya saat shalat. Pada ayat yang pendek tersebutlah, ternyata terkandung sebuah konsep modern, saat Allah swt bersumpah demi masa, maka rahasia waktu-pun  terungkap, bagaikan pedang, bila tak digunakan dengan baik, niscaya dia akan menusuk pemiliknya. “Wal ‘ashr innal insâna lafî khusr, demi masa, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi”, firman Allah swt.
Lantas, hanya sebatas itukah rahasia besar waktu, tidak. Allah swt melanjutkan firmannya “illallazînâ âmnû.., kecuali orang-orang yang beriman..”. Jika saat ini tampak umat yang tak beriman tidak merugi, maka bukan berarti mereka tidak akan merugi, waktu akhirnya akan menghakimi mereka juga, saat yang ditentukan Allah swt datang, maka mereka pun harus mempertanggungjawabkannya, waktu yang diberikan Allah swt di dunia, tidakkah cukup untuk mempelajari tanda-tanda keesaan Allah swt, tidakkah cukup untuk melihat kebesaran Allah swt, sehingga mereka beriman, maka merugilah mereka yang tak beriman.
Iman dengan pilarnya sehingga membebaskan manusia dari belenggu selain Allah swt, sehingga jelas hubungan antara hamba dan Sang Pencipta tanpa perantara yang rumit, sehingga kebaikan tidak hanya dilakukan setengah-setengah dan terus menerus (istiqamah), sehingga martabat terangkat dan dengan ketinggian tersebut, munculah rasa malu kepada Rabbnya, sehingga bersih hati seorang hamba, sehingga ada tanggung jawab atas segala perbuatan, sehingga berbuahlah ia seabagai amal shaleh.
Wa ‘amilus-shâlihât..dan yang beramal shaleh..” firman Allah swt selanjutnya, dialah gerak, amal, pembangunan dan pemakmuran. Konsep modern tidak hanya disiplin waktu, namun yang selamat adalah yang beriman dan beramal shaleh demi Allah swt, sehingga ada kesinambungan.
Terakhir, sebagai konsep yang modern, Allas swt berfirman “wa tawâ shau bil-haq wa tawâ shau bis-shabr...dan yang saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran..”. dia bukan konsep untuk satu orang, malainkan dia konsep milik kesatuan. Kesatuan yang memiliki ikatan istimewa dan tujuan yang satu. Mereka sadar akan pentingnya saling berpesan dalam kebenaran dan kesabaran, sebab pada perjalanan hidup di dunia ini, ada banyak sekali hambatan dan godaan.
Pada zaman yang modern ini, dapatkah kita saksikan kepemimpinan yang baik, sehingga dapat memakmurkan seisi bumi?, tidak. Negeri Paman Sam yang konon katanya super power itu, tidak pernah menjanjikan kedamaian, alih-alih kepada dunia internasional, rakyatnya sendiri saja dikorbankan demi ambisi setiap invansi-invasinya ke negara-negara lain. Maka hanya ada satu kapemimpinan, yang dapat menyatukan dunia dalam kedamaian, sejarahnya mencatat hanya Islamlah yang pernah membuktikannya.
Islamlah pemilik manhaj al-‘ashr, tidak pernah usang dimakan zaman, tidak pernah menyalahi tempat. Selalu sesuai dimanapun, dan kapanpun. Oleh sebab itu, Abul Hasan An-Nadwi menulis sebuah kitab berjudul “Mâzâ Khasrul ‘Âlam bi Inkhithath al-Muslimîn”, apa kerugian dunia, dengan kemunduran kaum muslimin. Beliau membahas kerugian-kerugian dunia, yang disebabkan oleh kemunduran orang-orang Islam. Salah satu pembahasannya adalah kepemimpinan Islam.
Kemunduran dalam kepemimpinan Islam, telah menyebabkan dunia terus menerus tak pernah bangkit dari perdamaian. Konflik demi konflik terjadi, peperangan tampak tak pernah berhenti. Itu disebabkan karena konsep selain yang dimilki Islam, tidak memiliki kitab yang diwahyukan dan syari’at, tidak ada tarbiyah dalam pengambilan tampuk kepemimpinan, tidak ada ketentuan yang dapat menghindarkan dari nepotisme, sehingga hanya melayani golongan tertentu saja, tidak menganggap ruh sebagai bagian dari manusia, sehingga hilang keseimbangan.
Maka, mari kita konsep waktu yang kita miliki, terus berpegang teguh pada prinsip-prinsip keimanan, selalu beramal shaleh dan saling bernasehat dalam kebenaran dan kesabaran.
Wallau a’lam bis-shawwab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ringankan Beban Kuatkan Impian: Dampak Bantuan Seragam bagi Suci Aulia Dhina

Mitos Pulau Penyengat dan Spirit Islam

Pembunuh yang Dicintai Korbannya